Menuju Festival Aura Mahakam
Festival Aura Mahakam pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal 10 Januari 2026 di Teras Samarinda.
Menampilkan kolaborasi seni, musik, dengan mengangkat narasi dan suara dari masyarakat lokal, festival ini mendorong kesadaran publik agar menjadi solidaritas kolektif, menghadirkan ruang bagi Masyarakat Adat, seniman, dan generasi muda untuk bersuara lantang menolak kerusakan lingkungan.
Lebih dari sekadar acara, Festival Aura Mahakam adalah momentum transformasi di mana kearifan lokal bertemu dengan semangat perlawanan modern, menegaskan bahwa masa depan hutan, sungai dan masyarakat yang hidup disekitar Mahakam ada di tangan kita bersama, untuk dijaga, dirayakan, dan dipertahankan.





siaran-pers
Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu 10 Januari 2026 — Festival Aura Mahakam diselenggarakan pada Hari Lingkungan Hidup Nasional, Sabtu (10/1/2026) di Teras Samarinda, sebagai upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian Lanskap Mahakam, salah satu kawasan ekologis strategis di Indonesia.
Lanskap Mahakam memiliki luas lebih dari 77.000 kilometer persegi, mencakup ekosistem hutan tropis, sungai, rawa, dan danau yang menjadi habitat berbagai spesies dilindungi, seperti pesut Mahakam, orangutan, dan burung enggang, serta beragam flora dan fauna endemik. Kawasan ini juga merupakan ruang hidup 27.923 jiwa Masyarakat Adat dari berbagai sub-suku Dayak, antara lain Busang, Kenyah, Kayan, Bahau, Penihing, dan Modang, yang tersebar di 49 kampung. Bagi Masyarakat Adat, Mahakam memiliki nilai ekologis, sosial, budaya, dan spiritual yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.
Dalam beberapa tahun terakhir, Lanskap Mahakam menghadapi tekanan serius akibat deforestasi, aktivitas pertambangan, ekspansi perkebunan kelapa sawit, serta hutan tanaman industri. Kerusakan hutan di wilayah hulu berdampak langsung pada meningkatnya risiko banjir di wilayah hilir, penurunan kualitas air, serta menyusutnya ruang hidup satwa liar dan masyarakat. Kondisi tersebut menegaskan urgensi perlindungan lanskap Mahakam melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor dan lintas generasi.
Festival Aura Mahakam merupakan bagian dari kampanye Aura Mahakam yang diluncurkan secara digital pada September 2025, dengan fokus melibatkan generasi muda, khususnya di kawasan perkotaan sekitar Mahakam seperti Samarinda dan Balikpapan. Dalam festival ini, seni menjadi salah satu medium utama penyampaian pesan ekologis.
Hari Merdeka, visual artist yang terlibat dalam kampanye Aura Mahakam 2026, menyatakan bahwa seni memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik terhadap krisis lingkungan di Mahakam. Menurutnya, melalui karya visual, Mahakam dihadirkan bukan sekadar sebagai bentang alam, melainkan sebagai ruang hidup yang rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama. Ia juga menilai seni seperti mural bisa menjadi medium untuk mengekspresikan kepedulian, membangun solidaritas, serta menyuarakan kritik terhadap model pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Dalam rangkaian acara puncak festival, peserta membacakan Deklarasi Orang Muda untuk Mahakam sebagai pernyataan sikap bersama generasi muda terhadap krisis ekologis yang terjadi di lanskap tersebut. Ridho Pratama selaku koordinator Festival Aura Mahakam ini menegaskan bahwa deklarasi ini merupakan pernyataan sikap dari generasi muda yang menolak untuk bersikap diam akan kerusakan hutan dan kriminalisasi terhadap pejuang pembela lingkungan yang berdampak pada hilangnya masa depan mereka. “Kami tidak ingin hanya menjadi saksi, tetapi kami juga ingin dilibatkan sebagai pelaku perubahan, dan ikut mengambil keputusan dalam menentukan nasib Mahakam, karena Mahakam bukan semata-mata sebuah sungai, melainkan rumah dan sumber kehidupan untuk kami, tukas Ridho”
Melalui deklarasi tersebut, generasi muda secara tegas menyatakan keberpihakan mereka pada perlindungan Mahakam, termasuk hutan, sungai, serta Masyarakat Adat dan warga lokal yang selama ini menjaga alam dengan pengetahuan dan kearifan tradisional. Mereka juga menolak praktik perusahaan maupun korporasi perusakan lingkungan yang mengatasnamakan pembangunan, serta menegaskan bahwa pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang menjaga kehidupan.
Deklarasi ini menegaskan kesiapan generasi muda untuk terlibat secara aktif melalui proses belajar, menyuarakan kepedulian, berkarya, dan bergerak bersama dalam menjaga Mahakam. Festival Aura Mahakam 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan peran generasi muda dalam upaya perlindungan lingkungan dan keadilan ekologis di Kalimantan Timur.
Kontak Media: Yola, Koalisi Lanskap Mahakam (mahakamulu@proton.me)