Ruang bersama untuk mendengar cerita, mengikuti perkembangan, dan memperkuat gerakan menjaga Lanskap Mahakam.
4 Juni 2026
Di jantung pulau Kalimantan, terbentang sebuah provinsi yang sering disebut Benua Etam atau "Tanah Kita". Namun, di balik nama yang akrab dan hangat itu, Kalimantan Timur menyimpan sebuah ketegangan abadi yang membentuk jiwanya. Ia bukan sekadar wilayah geografis yang statis, melainkan sebuah panggung dinamis di mana dua dunia yang berbeda secara diametral bertemu, berinteraksi, dan sering kali bertabrakan. Dunia Hulu, yang masih bernapas dalam irama tradisi dan kesakralan alam, berhadapan dengan dunia Hilir, yang berdenyut kencang dalam ritme industri dan modernitas.
Motto provinsi, Ruhui Rahayu, yang bermakna kehidupan yang harmonis, damai, dan sejahtera, terdengar seperti doa luhur. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa mencapai harmoni ini adalah sebuah negosiasi tanpa henti. Ini adalah kisah tentang bagaimana sungai yang sama bisa menjadi jembatan spiritual bagi satu komunitas, sekaligus menjadi jalan raya bagi komoditas yang menggerus ekosistem bagi komunitas lain.
Sungai Mahakam, dengan panjang 920 kilometer, adalah arteri utama yang menghubungkan kedua dunia ini, namun ia memukul dua nada yang berbeda. Di hulu, di pedalaman yang masih tertutup kanopi hutan, sungai adalah entitas yang hidup dan bernyawa. Bagi masyarakat Dayak, ia bukan sekadar sumber air atau ikan; ia adalah jalur suci yang akan dilalui roh leluhur menuju surga. Legenda Pesut Mahakam, yang diyakini sebagai jelmaan manusia, mengajarkan bahwa sungai adalah ruang sakral yang harus dihormati.

Namun, begitu arus sungai mengalir ke hilir menuju kota-kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan, suaranya berubah. Di sini, Mahakam bertransformasi menjadi arteri industri yang pragmatis. Pemandangan ponton-ponton raksasa yang membawa "gunungan" batu bara menjadi pemandangan sehari-hari, simbol kemakmuran ekonomi yang menggerakkan mesin ekspor nasional. Sayangnya, kemakmuran ini datang dengan harga yang berat: pendangkalan, polusi, dan gangguan ekologis yang mendorong spesies ikonik seperti Pesut Mahakam ke ambang kepunahan. Sungai ini menjadi cermin sempurna dari kontradiksi Kaltim: kemakmuran di hilir seringkali dibangun di atas degradasi di hulu.

Wajah manusia di Benua Etam juga terbelah oleh garis imajiner ini. Di hulu, identitas terikat kuat pada tanah leluhur. Suku-suku Dayak seperti Kenyah, Bahau, dan Tunjung, serta Kutai Adat, hidup dalam simbiosis dengan alam. Mereka adalah penjaga tradisi, dengan komunitas yang didominasi oleh penganut Kristen yang menjaga hutan sebagai bagian dari kosmos mereka.

Sebaliknya, di hilir, wajah Kaltim berubah menjadi sebuah melting pot yang semarak. Kota-kota pesisir didominasi oleh gelombang migran: suku Jawa, Bugis, dan Banjar yang datang mencari peluang ekonomi. Interaksi intensif di ruang urban ini melahirkan akulturasi yang unik. Budaya Kutai di hilir telah menyerap unsur Melayu-Banjar, dan bahkan Sarung Tenun Samarinda—yang aslinya dibawa oleh perantau Bugis—kini telah diterima sebagai ikon identitas resmi kota. Proses sejarah "menjadi Melayu" atau "menjadi Banjar" telah menggeser banyak kelompok Dayak ke pedalaman, memperdalam jurang demografis dan religius antara dua kutub ini.

Perekonomian Kaltim bagaikan memiliki dua wajah yang saling bertolak belakang. Di hulu, ekonomi berjalan di atas kaki kearifan lokal. Masyarakat mengandalkan perladangan, hasil hutan bukan kayu, dan perikanan sungai. Namun, ruang hidup mereka semakin terdesak oleh konsesi industri yang tumpang tindih dengan wilayah adat.

Di hilir, mesin ekonomi raksasa digerakkan oleh batu bara, sawit, dan migas. Produksi batu bara yang mencapai ratusan juta ton per tahun menjadikan Kaltim salah satu pemain kunci di pasar global. Ironisnya, hubungan ekonomi ini sering kali terasa seperti parasitisme. Kekayaan yang digali dari perut bumi di hulu mengalir deras ke kas perusahaan di hilir dan Jakarta, sementara masyarakat hulu sering kali hanya menerima sisa-sisa berupa kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Mahakam Ulu, meski kaya sumber daya, tetap menjadi wilayah yang tertinggal, sebuah paradoks yang menyakitkan.

Perbedaan ini juga tergambar jelas dalam piring makan dan karya seni. Dapur hulu menyajikan rasa hutan yang autentik: Juhu Singkah dari rotan muda, Kalumpe dari daun singkong, dan Wadi yang difermentasi untuk bertahan hidup di pedalaman. Setiap hidangan adalah bukti kecerdasan lokal dalam beradaptasi dengan alam.
Sementara itu, dapur hilir adalah pesta perpaduan rasa. Pengaruh Banjar dan Bugis mewarnai Soto Banjar dan Coto Makassar, sementara kekayaan laut Balikpapan memunculkan hidangan kepiting yang lezat. Nasi Kuning Samarinda dengan ikan haruan adalah simbol fusi yang sempurna: masakan nasional yang diadaptasi dengan jiwa lokal.

Seni kriya pun mencerminkan dualisme ini. Mandau, pusaka suku Dayak, adalah simbol spiritualitas dan identitas yang lahir dari dalam (autochthonous), penuh dengan ukiran yang bercerita tentang leluhur. Di sisi lain, Sarung Tenun Samarinda adalah simbol identitas hibrida yang lahir dari migrasi dan perdagangan, yang berhasil bertransformasi menjadi ikon resmi provinsi.
Kini, kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi katalisator yang mengubah segalanya. Proyek raksasa ini, meski dipromosikan sebagai masa depan yang hijau, secara fungsional merupakan perpanjangan dari logika pembangunan hilir. Bagi Masyarakat Adat Suku Balik dan Paser yang mendiami wilayah tersebut, IKN bukan berkah, melainkan ancaman eksistensial. Tanah ulayat mereka diambil alih, dan prinsip persetujuan (Free, Prior, and Informed Consent /FPIC)) sering kali diabaikan. Janji untuk "menjaga kearifan lokal" terasa hampa ketika fondasi material dari kearifan itu—hutan dan sungai—justru dihancurkan demi pembangunan. IKN mengintensifkan marginalisasi yang sudah lama terjadi, menjadikan masyarakat adat sebagai "hulu" dalam skala mikro di hadapan "hilir" baru yang berskala nasional.
Masa depan Kalimantan Timur berada di persimpangan yang krusial. Di satu sisi, arus urbanisasi dan eksploitasi sumber daya terus mengalir deras, mengancam keberlanjutan ekologis dan memperlebar kesenjangan sosial. Di sisi lain, dari hulu muncul perlawanan yang gigih. Masyarakat Adat dan organisasi sipil terus memperjuangkan hak atas tanah dan keberlanjutan, menawarkan visi alternatif di mana komunitas dan alam menjadi prioritas.
Untuk mewujudkan Ruhui Rahayu, Kaltim tidak bisa lagi membiarkan satu bagian provinsi dibangun di atas pengorbanan bagian lainnya. Diperlukan pergeseran paradigma yang fundamental: dari eksploitasi menuju kemitraan yang adil. Kita perlu memberikan perlindungan hukum yang kuat bagi wilayah adat, mendiversifikasi ekonomi, dan mengakui Masyarakat Adat sebagai mitra setara dalam merancang masa depan.
Tanpa rekonsiliasi yang tulus antara hulu dan hilir, Benua Etam akan terus menjadi negeri di persimpangan yang penuh potensi, namun sarat konflik. Harmoni sejati hanya bisa tercapai ketika kita menyadari bahwa sungai yang sama, hutan yang sama, dan tanah yang sama adalah rumah bagi kita semua, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi.

_Artikel ini disusun berdasarkan analisis laporan "Bentang Alam Mahakam: Analisis Krisis Sosio-Ekologis di Persimpangan Jalan Pembangunan dan Konservasi" oleh Ridho Pratama (WALHI Kaltim). _